UEFA Ubah Regulasi Pergantian Pemain

Pelatih Manchester City Pep Guardiola mendesak UEFA mengubah regulasi pergantian pemain. Terutama untuk laga-laga di Liga Champions dan Liga Europa.

”Kenapa Anda tak pikirkan empat, lima, atau bahkan enam pergantian? Seluruh pemain-pemain bisa terlibat lebih banyak dari sebelumnya. Begitu pun pelatih, kami dapat menerapkan taktik yang berbeda,” tutur Guardiola, seperti dikutip dari Manchester Evening News.

Dia pun yakin dengan usulannya itu. ”Semua akan lebih baik (dengan lebih dari tiga pergantian),” imbuh pelatih yang sudah mengoleksi dua Si Kuping Lebar, sebutan trofi Liga Champions.

Dengan ditambahnya pergantian pemain, Guardiola mengklaim itu tidak hanya memberi keuntungan bagi pelatih dan klub. Namun juga untuk pemain. ”Mereka juga perlu bernapas, dengan mendapat jatah istirahat, mereka bisa menikmati permainan,” klaim tactician 47 tahun itu.

Dan, baru pada tadi malam WIB usulannya itu terkabul.

Ya, tadi malam WIB UEFA sudah merilis perubahan regulasi baru terkait dengan jumlah pemain yang bisa diganti dalam satu laga. Seperti usulan Guardiola, pergantian pemain tak lagi dijatah tiga pemain. Tapi, dengan regulasi baru ini, pergantian bisa bertambah jadi empat pemain. Syaratnya, The Citizens musim depan harus kembali lagi ke fase knockout seperti musim ini.

Sebab, aturan baru itu hanya diperuntukkan jika laga fase knockout masuk perpanjangan waktu. Baik di Liga Champions atau di Liga Europa musim depan. Sebaliknya, apabila laganya cuma berakhir sampai 90 menit, maka jatah penggantiannya tetap normal tiga kali. Perubahan di dalam jumlah pergantian pemain itu bukan yang pertama terjadi.

UEFA mengadopsi aturan ini dari terobosan Federasi Sepak Bola Inggris (FA) dan FIFA. Kedua otoritas tersebut sudah menerapkannya musim ini untuk Piala FA dan Piala Dunia Antarklub.

Perubahan pun juga terjadi dalam jumlah pemain yang duduk di bench. Jika pada musim-musim sebelumnya setiap klub hanya boleh mendaftarkan 18 pemain – 11 pemain starter dan 7 pengganti, maka musim depan jumlahnya jadi 23 pemain.

Rinciannya, 11 pemain yang turun di lapangan sebagai starter, dan 12 pemain sisianya di bench. Hanya, jika Guardiola ingin merasakannya, maka dia harus mampu membawa City main di final Liga Champions musim depan. Aturan yang sama berlaku di final Liga Europa. ”Pelatih bisa lebih fleksibel dengan perubahan ini,” tulis UEFA dalam pernyataannya.

Selain perubahan dari jumlah pergantian pemain dalam fase knockout dan final saat Liga Champions dan Liga Europa musim depan, UEFA juga membebaskan pendaftaran pemain-pemain baru pada fase knockout. Tak ada lagi aturan pemain yang didaftarkan tak boleh berada dalam satu level turnamen sama dengan mantan klubnya.

City atau Guardiola memang tak mengalaminya musim ini. Arsenal yang jadi korbannya setelah mereka tak diperbolehkan menurunkan bomber anyarnya, Pierre-Emerick Aubameyang. Alasannya, Auba dari Borussia Dortmund, dan The Gunners dan Dortmund sama-sama main di Liga Europa. Atau, kasus ketika Henrikh Mkhitaryan dilarang memakai nomor punggung 7-nya di Arsenal.

Alasannya, nomor itu sudah jadi milik Alexis Sanchez yang sudah didaftarkan Arsenal di Liga Europa. Alhasil, Mikhi selama bermain di Liga Europa musim ini harus rela menggunakan nomor punggung 77. Sementara nomor punggung 7 hanya dia kenakan ketika membela Arsenal di Premier League.

Related Post