Penasihat Hukum Jessica Yakin Mirna Tewas Bukan Akibat Sianida

Sports Kompas Jakarta – Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, telah menggelar sembilan kali sidang kasus kopi beracun dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso. Sejumlah fakta-fakta pun bermunculan di dalam persidangan. Penasihat Hukum Jessica, Otto Hasibuan mengaku, telah bisa menyimpulkan kalau korban Wayan Mirna Salihin meninggal dunia bukan akibat menenggak sianida yang berada di dalam Es Kopi Vietnam. Sebab, tidak ada persesuaian antara barang bukti yang disita dengan yang diperiksa. Termasuk, tidak ada satu pun saksi yang melihat Jessica menaruh sesuatu ke dalam gelas kopi. “Dari kemarin kan sudah kita tahu, 17 saksi fakta tidak ada satu pun yang melihat bahwa Jessica menaruh sesuatu di dalam gelas. Bahkan, memegang gelas saja tidak ada. Bayangkan 17 orang loh ada di situ. Itu poinnya,” ujar Otto, di PN Jakarta Pusat, Jalan Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (28/7). Dikatakan Otto, tim penasihat hukum juga sempat menanyakan kepada saksi-saksi apakah terus memperhatikan atau berada di meja nomor 54. Namun, saksi menyatakan tidak. “Berarti tidak tahu dong kejadiannya. Jadi tidak ada suatu hal pun kita bisa membuktikan Jessica. Bisa saja ada orang lain datang, kan begitu. Jelas sekali tidak ada bukti,” ungkapnya. Kemudian, tambahnya, mengenai barang bukti sisa kopi yang diminum korban Mirna. Pada persidangan awal, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengatakan kalau barang bukti yang dibuka tutup botolnya dan dicium penasihat hukum merupakan barang bukti asli dari sisa minuman Mirna. “Ketika itu saya juga tanya mana pembandingnya, dia bilang tertinggal di Mabes Polri. Nah, sekarang saya tanya terus jawabannya oh ternyata yang itu aslinya (botol lain). Jadi pertanyaan kita, yang diperiksa ini apa sekarang. Yang mana yang diperiksa di Labkrim,” katanya. “Apalagi seperti kemarin saya katakan, yang disita adalah dua gelas, satu botol. Ternyata yang diperiksa dua botol, satu gelas. Katanya dipindahkan ke botol lain, tapi tidak ada di berita acara,” tambahnya. Menurutnya, semua pihak harus melihat kejujuran dalam persidangan ini. Jangan melihat pakai kaca mata kuda. “Kita harus melihat fakta-fakta yang sesungguhnya. Karena kalau sudah terbukti tidak ada saksi yang melihat bahwa sianida dimasukan oleh Jessica -17 saksi tidak melihat-, maka berarti kesimpulan kami bahwa tidak ada sianida yang masuk ke dalam tubuh korban. Sehingga pertanyaan lebih lanjut, benarkah korban mati karena sianida,” jelasnya. Otto menuturkan, guna memastikan apakah korban meninggal karena sianida, maka yang harus diperiksa adalah di dalam tubuh korban ada sianida tidak. “Perlu saya beritahukan, yang ada di persidangan ini tidak pernah diperiksa semua sianida yang ada di tubuh korban. Yang diperiksa oleh ahli adalah hanya sianida di gelas sisa minuman Mirna, yang oleh ahli katanya 20 mililiter itu masuk ke dalam tubuhnya Mirna karena diminum menggunakan pipet. Anehnya dari mana 20 mililiter ini, dibilang kami menafsir yang diminum 20 mililiter. Bayangkan bisa ditafsir 20 mili. Kalau saya hirupnya banyak bagaimana, kalau sedikit bagaimana?” terangnya. Ia menegaskan, tidak ada persuaian antara barang bukti yang disita dengan yang diperiksa. “Jelas di sini tidak ada persesuaian antara barang bukti yang diperiksa di Labkrim dan barang bukti yang disita. Jadi saya meyakini, bahwa korban tidak mati karena sianida,” tandasnya. Bayu Marhaenjati/CAH BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu