Pemain Inggris di Liga Primer: Sterling dan Citra Buruk (2)

Sports Kompas , London – Di tengah-tengah kekhawatiran keterpurukan pemain asal Inggris dalam skuad Manchester United, Raheem Sterling muncul sebagai sebuah fenomena yang unik. Tidak sedikit yang mengecam dan mencela Sterling ketika “rangkaian prosesi kepindahannya” dimulai. Dari saat ia menolak menandatangani kontrak baru dengan gaji per pekan yang naik, keterusterangannya untuk meninggalkan Liverpool, dan keputusannya menerika tawaran dari Manchester City. Sterling, yang masih berusia 20 tahun, dituduh tidak tahu diri, mata duitan, dan menurut saja kepada agennya. Pelatih Liverpool, Brendan Rodgers, pada beberapa kali kesempatan juga menceritakan bagaimana ia menemukan Sterling dan menjadikannya pemain hebat di klub berjuluk the Reds ini. Untuk menekan Sterling, Steven Gerrard yang sudah meninggalkan Liverpool untuk “memasuki masa persiapan pensiunnya” di Los Angeles Galaxy” sampai merasa perlu dimintai komentarnya tentang penyerang sayap tim nasional Inggris berusia 20 tahun itu. Gerrard menyayangkan kepindahan Sterling. Pernyataan mantan ikon Livepool tersebut masih lebih halus dibandingkan rekan seklubnya yang kini juga sudah gantung sepatu, Jammie Carragher. Dalam beberapa kesempatan, Carragher terus mengkritik sikap Sterling untuk meninggalkan Liverpool. Saat-saat terakhir Sterling meninggalkan Liverpool juga membikin heboh. Dimulai dengan pernyataan bahwa ia sakit sehingga tak bisa mengikuti program latihan Liverpool yang pertama setelah liburan pasca liga 2014-2015 usai sampai keputusannya untuk tak ikut tur the Reds ke Timur Jauh pada tiga hari sebelum Rodgers dan kawan-kawang terbang ke Bangkok, Thailand. Sejumlah media di Inggris dengan cepat menghubungkannya dengan taktik, trik, atau ulang yang dilakukan pemain sebelum Sterling untuk pindah dari klubnya. Luis Suarez pernah melakukannya di Liverpool, sebelum akhirnya benar-benar meninggalkan Anfield untuk bergabung dan meraih sukses lebih baik di Barcelona. Juga Carlos Tevez semasa di Manchester City. Dan, ketika akhirnya Liverpool jadi melepas Sterling ke Manchester City, juga segera muncul berbagai tulisan yang mencoba “memasang perangkap” buat pemain ini dalam stigma sebagai pemain yang berulah, tanpa idealisme kuat, dan diramalkan bakal menuai hal-hal buruk dari semua tindakannya. HARI PRASETYO

Sumber: Tempo.co