JFE Pasok Baja ke Lima Pabrik Mobil

Sports Kompas Jakarta – PT JFE Steel Galvanizing Indonesia akan memasok baja otomotif ke lima pabrik mobil, yakni Toyota, Daihatsu, Nissan, Suzuki, dan Mitsubishi. Suplai yang akan dimulai pada Oktober 2016 ini diharapkan dapat mengurangi porsi impor baja otomotif. “Dengan begini konten lokal mobil bisa naik, karena kita bisa suplai langsung. Selama ini kan kita impor 100% baja otomotif dari Jepang,” kata General Manager General Administration and Human Resource Department JFE Steel Indonesia Musfir, Selasa (26/7). Musfir mengatakan, saat ini tren kebutuhan baja otomotif untuk satu mobil sekitar 0,06 ton. Jika diasumsikan produksi mobil sekitar 1 juta unit per tahun, kebutuhan baja otomotif sekitar 600-700 ribu ton per tahun. Saat ini, kata dia, pembangunan pabrik JFE Steel yang berkapasitas 400.000 ton per tahun sudah rampung, dan mulai produksi untuk komersial pada Oktober mendatang. Pabrik dengan nilai investasi US$ 300 juta ini, akan memproduksi lembaran baja galvanis dengan lebar 800-1.850 milimeter dan ketebalan 0,4-2,3 milimeter. Hingga akhir tahun ini, menurut dia, JFE menargetkan bisa mensuplai 20.000 ton baja ke pabrik-pabrik otomotif. Meski demikian, bahan baku yang digunakan PT JFE Steel masih 100% impor dari Jepang. Musfir mengatakan, impor mau tidak mau harus dilakukan, karena spesifikasi baja lokal belum memenuhi standar yang ditentukan. “Spesifikasi untuk baja otomotif agak complicated, sangat ketat. Kami berharap ada perusahaan yang bisa memenuhi spesifikasi bahan baku kami. Nanti kalau ada dari lokal sudah bisa memenuhi spesifikasi yang ditentukan, baru kami akan menggunakan dari lokal,” kata dia. Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Ilmate) Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawiyawan mengakui, kebutuhan baja otomotif sampai saat ini, sebanyak 100% masih dipasok dari impor. Adanya JFE Steel dan Krakatau Nippon Steel Sumikin (KNSS), diharapkan bisa mengurangi beban impor. “Dalam industri otomotif membutuhkan baja canai panas (hot rolled coil/HRC) dan baja canai dingin (cold rolled coil/CRC). Nah, CRC-nya ini khusus. Tapi CRC ini harus diproses lagi, karena biasa dipakai di bagian luar kendaran, sehingga ada faktor strenght untuk melindungi penumpang. Produk ini juga harus ada faktor estetika, jadi kalau dicat, catnya mengkilat, dan kalau disenggol tidak cepat rontok,” terang Putu. Putu mengatakan, JFE mendapatkan fasilitas masterlist selama dua tahun. Setelah itu, perusahaan diharapkan bisa menggunakan bahan baku dari Krakatau Posco. “Sekarang KS Posco sedang mengembangkan hot strip mill untuk menghasilkan HRC yang memang ditargetkan untuk otomotif. Kemudian dari HRC, dia akan memproduksi CRC melalui cold rolling mill-nya. Harapannya, 2 tahun sudah bisa menciptakan cold rolling mill yang bisa digunakan untuk otomotif nantinya,” kata Putu. Rahajeng KH/HK Investor Daily

Sumber: BeritaSatu