Conte Tangani Chelsea, Dijuluki Alex Ferguson dari Lecce

Sports Kompas , Jakarta – Akhirnya Chelsea resmi mengumumkan manajer barunya, yakni Antonio Conte. Pelatih timnas Italia itu sudah sejak lama disebut akan menjadi pengganti Jose Mourinho—sebagai pelatih permanen The Blues. Guus Hiddink sejak awal memang ditugaskan sebagai manajer sementara. Untuk masa tiga tahun ke depan, sesuai dengan kontrak, Conte bertugas di Stamford Bridge. Direktur Klub, Marina Granovskaia, orang kepercayaan pemilik klub, Roman Abramovich, dalam konferensi pers, Senin lalu, mengungkap alasan klub itu merekrut Conte. “Dia merupakan salah satu manajer yang paling dihormati di dunia sepak bola,” kata dia. “Dengan senang hati kami menjalin kerja sama dengannya.” Waktu pengumuman resmi yang dilakukan saat liga masih berjalan dan ketika Piala Eropa, yang menjadi tugas Conte bersama timnas Italia, disebut Granovskaia bertujuan agar mereka bisa mempersiapkan Liga Primer musim nanti. “Ini membantu perencanaan kami di masa depan,” kata Granovskaia. Conte, yang mengaku hanya tertarik menangani Chelsea—selepas menangani Azzuri, memang punya tugas berat. Akibat tersuruk di awal musim—yang kemudian diakhiri dengan pemecatan Jose Mourinho, Desember lalu—dipastikan akan memulai kompetisi musim ini dengan berat. Dengan hanya menyisakan tujuh pertandingan dan saat ini mereka berada di peringkat ke-10, sulit bagi Hiddink untuk bisa finis di empat besar. Artinya, di musim depan, mereka bakal absen di Liga Champions. Liga Champions adalah segalanya untuk pemain. Mereka akan menetes air liurnya bila ditawari bermain di klub yang ikut dalam turnamen paling mahal hadiahnya di dunia itu. Hal yang pernah terjadi ketika Manchester United—yang semula langganan turnamen itu, sulit mencari pemain bintang karena mereka absen. Nah, di sela-sela kesibukannya mempersiapkan timnas Italia ke Piala Eropa, Juni mendatang, praktis pria kelahiran Lecce—46 tahun lalu itu, harus segera bekerja untuk The Blues. Tidak saja harus mendapatkan pemain yang diinginkan, yang menurut media Inggris akan mendatang setidaknya 10 pemain baru, tapi juga dia harus mempertahankan pemain yang dibutuhkannya. Banyak yang membuat para pemainnya hengkang. Satu di antaranya, mereka tak manggung di Liga Champions. Klub besar lainnya sudah pasti tergiur untuk membawa mereka pergi. Satu di antaranya Diego Costa—yang disebut-sebut akan pergi ke klub asalnya, Atletico Madrid—yang besar kemungkinan klub yang kini berada di posisi kedua La Liga masih akan manggung di Liga Champions. Itu salah satunya saja. Pekerjaan lainnya, jelas lebih banyak. Semuanya, berujung pada apakah dia akan sesukses seperti yang dilakukannya bersama Juventus? Tak sedikit yang meragukannya. Satu di antaranya, Chris Sutton, 43 tahun, bekas striker Chelsea. Dalam wawancara dengan dia mengaku tak habis pikir dengan keputusan bekas klubnya itu dengan merekrut Conte. Semestinya, menurut dia, Chelsea cukup dengan menjadikan Guus Hiddink sebagai manajer permanen. Di tangan pelatih asal Belanda itu, Chelsea memang bangkit. Mereka tidak pernah dalam 15 pertandingan. “Di bawah Hiddink, anak-anak bekerja dengan baik,” kata dia. Sebaliknya, mendatangkan Conte, menurut Sutton yang tak berbeda perangainya dengan Jose Mourinho, bukan pilihan yang tepat. “Sangat tidak masuk akal. Saya khawatir para pemain mengalami hal serupa seperti ketika ditangani Jose,” kata dia. Menurut Direktur Teknik Chelsea, Michael Kevin Emenalo, pemecatan Mourinho dilakukan karena terjadi perselisihan antara pemain dan pelatih. Hubungan kedua pihak sudah buruk dan tak mungkin dilanjutkan. Kesuksesan Conte di Juventus memang luar biasa. Di tangannya, mereka menjadi klub yang secara berturut-turut meraih scudetto dalam tiga musim. Padahal, ketika dia datang, di musim sebelumnya Juventus hanya ngendok di posisi ketujuh. Prestasi itu didapat tidak dengan cara yang biasa. Andrea Pirlo yang datang ke Turin bersamaan saat Conte memulai tugas di sana, banyak bercerita tentang kerasnya Conte. “Sekalipun kami menang, dia tetap saja melemparkan botol di ruang ganti,” kata dia. Sebuah sudut di ruang ganti kerap menjadi pelampiasan pelatih yang juga pernah menjadi pemain Juventus itu. “Kalau sudah bicara, dia lebih sering terdengar menyerang,” kata dia. Gianluigi Buffon punya kisah lain. Saat memenangi scudetto pertama bersama Conte, dia sempat mempertanyakan bonus yang dijanjikan klub kepada para pemain. Namun, apa jawaban Conte? Seperti kata Pirlo, dia kemudian menghardik Buffon—yang tak lain kapten timnya. “Saya tidak ingin mendengar kata-kata yang lain,” kata dia. “Saya tidak pernah berharap kata itu yang akan keluar dari mulut kalian. Bonus? Kalian mengecewakan,” kata Conte sambil menarik para pemain lainnya ke luar ruang ganti untuk segera ke lapangan. Gampang marah, berkata-kata kasar, dan tak mau timnya letoy, itulah Antonio Conte. Sebenarnya lebih mirip dengan Sir Alex Ferguson, pelatih tersukses di Liga Primer. Satu yang terkenal darinya adalah hairdryer treatment, yakni kemarahan yang meledak ketika berada di ruang ganti. Tujuannya, agar para pemain tampil lebih baik. Carlos Tevez yang pernah bermain di Manchester United dan Juventus pernah ditanyakan soal persamaan Conte dengan Sir Alex Ferguson. “Tidak banyak perbedaan,” kata dia. Kesuksesan Juventus dan timnas Italia yang lolos ke Piala Eropa tak lepas dari gayanya yang seperti itu. Hal itulah yang dikhawatirkan tidak akan cocok di Stamford Bridge. Namun, Roberto Mancini—pelatih Italia yang sukses bersama Manchester City, mempunyai keyakinan koleganya itu akan meraup kesuksesan di Liga Primer. “Mungkin dia akan menghadapi beberapa masalah di awal pekerjaannya, tapi yang penting dia tahu liga dengan sangat baik dan sangat cepat,” kata dia. Tanpa disebut Mancini, Conte sudah tahu masalah pertama yang akan dialaminya, yakni soal bahasa Inggris. Kabar yang terdengar, dia pun sudah mengambil pelajaran itu dalam setahun terakhir. Kosakata yang dimilikinya tentu akan sangat berguna dalam menangani Chelsea—termasuk kelak saat menghardik para pemainnya agar tampil lebih baik. Persoalannya, tentu bukan pada Conte, tapi para pemain di klub barunya kelak. | | | IRFAN B

Sumber: Tempo.co