Agustus, Simpanan Perbankan Naik Tipis

Sports Kompas Jakarta – Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat total simpanan perbankan hingga Agustus 2016 mencapai Rp 4.678,28 triliun secara month on month (mom), naik tipis 0,36% dibandingkan periode Juli 2016. Simpanan dalam rupiah meningkat 0,36% menjadi Rp 3.999,9 triliun pada Agustus 2016 (mom), sedangkan simpanan valas naik 0,35% menjadi Rp 678,38 triliun. Sekretaris LPS Samsu Adi Nugroho mengungkapkan, jumlah rekening simpanan dalam rupiah mencapai 186,16 juta rekening pada Agustus 2016, naik 1,18% dibandingkan Juli 2016. Sementara itu, jumlah rekening valas turun tipis dari 1.077.479 rekening pada Juli 2016 menjadi 1.070.585juta rekening pada Agustus 2016. “Jumlah rekening pada Agustus 2016 lebih banyak dari bulan sebelumnya, karena ada program amnesti pajak. Namun dari segi nilai lebih kecil dari bulan sebelumnya,” jelas dia kepada Investor Daily, Rabu (5/10). LPS mencatat, total rekening simpanan yang dijamin mencapai 187.238.920 rekening pada Agustus 2016 atau tumbuh 2.162.714 rekening (1,17%) dibanding posisi jumlah rekening hingga Juli 2016 yang sebanyak 185.076.206 rekening. Jumlah simpanan dengan nilai saldo sampai dengan Rp 2 miliar meningkat 1,17% (mom), dari 184.848.848 rekening menjadi 187.008.104 rekening. Jumlah nominal simpanan tersebut naik 0,27% (mom), dari Rp 2.068,29 triliun menjadi Rp 2.073,84 triliun. Jumlah rekening untuk simpanan dengan nilai saldo di atas Rp 2 miliar, meningkat 1,52% (mom) dari 227.358 rekening menjadi 230.816 rekening pada Agustus 2016. Nominal simpanan tersebut naik 0,43% (mom), dari Rp 2.593,41 triliun menjadi Rp 2.604,44 triliun. Sementara itu, data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, rasio kredit terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) bank umum mencapai 90,18% pada Juli 2016, naik dibandingkan periode Juli 2015 mencapai 88,5%. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Nelson Tampubolon mengungkapkan, untuk menjaga tingkat likuiditas bank pihaknya belum berencana mengubah acuan pembatasan (capping) suku bunga deposito untuk kategori bank umum kegiatan usaha (BUKU) III dan IV dengan menggunakan suku bunga acuan BI 7-days Reverse (Repo) Rate. Pasalnya, hal tersebut bisa memicu persaingan likuiditas di industri perbankan. Dia menjelaskan, acuan capping suku bunga deposito sebelumnya yang menggunakan BI rate, belum menunjukkan gangguan terhadap industri perbankan. ”Kami ingin jaga stabilitas,” ungkap dia di Jakarta, Selasa (4/10). Alasan OJK tidak mengubah acuan tersebut adalah agar likuiditas perbankan tetap stabil. Dia mengungkapkan, perubahan acuan bisa menyebabkan perubahan perilaku penabung dengan berpindah ke bank lain, sehingga berpotensi menimbulkan tekanan likuiditas di industri perbankan. ”Bayangkan, kalau kami minta BUKU III dan BUKU IV mengacu pada 7-days Reverse (Repo) Rate yang sudah turun 150 basis poin, dan mereka harus menyesuaikan dengan suku bunga depositonya yang jatuh tempo, pasti ada dampaknya kepada perilaku penabung,” ungkap dia. Saat ini, Nelson mengungkapkan, likuiditas perbankan dalam kondisi stabil, belum mengindikasikan pengetatan, begitu juga pada akhir tahun. “Karena dana repatriasi harus masuk sebelum Desember, bagi investor yang ingin mendeklarasikan harta dengan denda 2%, penambahan repatriasi ini harusnya bisa membuat likuiditas melonggar,” jelas dia. Meski demikian, Nelson menilai tidak menutup kemungkinan ada pengetatan likuiditas di beberapa segmen bank, seperti di bank pembangunan daerah (BPD). “Biasanya akhir tahun itu, belanja pemerintah daerah cukup tinggi. Namun, BPD sudah bisa menangani dengan baik karena mereka sudah pengalaman, siklusnya selalu begitu,”jelas dia. Sebelumnya, Kepala Divisi Risiko Perekonomian dan Sistem Perbankan LPS Doddy Arifieanto mengungkapkan, likuiditas akhir tahun memang cenderung meningkat karena bankir mengejar performa satu tahun. “Tetapi saya kira tekanan ini masih manageable mengingat likuiditas bank masih memadai, LDR masih di kisaran 90-92%,” ujar dia. Secara industri, likuiditas perbankan memang tidak menunjukkan pengetatan. Namun, kategori BUKU III menunjukkan LDR mencapai 95,8%, padahal secara industri baru mencapai 90,2%. “Pengetatan likuiditas ini bisa diantisipasi dengan melakukan PUAB (pasar uang antarbank) dengan BUKU IV yang LDR-nya baru 87%,” jelas dia. Gita Rossiana/ARS Investor Daily

Sumber: BeritaSatu