5 Hari Tak Hujan, Hutan Kalbar dan Kalteng Rentan Terbakar

Sports Kompas Jakarta – Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan, sudah lima hari tidak ada hujan di wilayah Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. “Bahkan awan potensial pun tidak tumbuh di atmosfer sehingga hujan buatan tidak dapat beroperasi,” katanya. Dalam keterangan tertulisnya, ia menjelaskan, potensi kemudahan kebakaran ditinjau dari analisa cuaca di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sangat tinggi sehingga kebakaran mudah terjadi. Ironisnya, pembukaan lahan dengan membakar masih marak dilakukan sehingga titik panas banyak ditemukan. Satelit Modis dengan sensor Terra Aqua pada Rabu (14/9) pukul 17.00 WIB mendeteksi ada 80 titik panas di Kalimantan Barat dan 66 titik panas di Kalimantan Tengah. Daerah yang dibakar adalah daerah-daerah yang tahun 2015 juga mengalami kebakaran. Di perbatasan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah banyak ditemukan titik panas. Daerah-daerah yang memiliki banyak titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang dan tinggi di Kalbar adalah Ketapang 35, Sintang 15, Melawi 10, Sekadau 9, Sanggau 6, Kayong Utara, 2, Kubu Raya 1, Landak 1, dan Sambas 1. Sedangkan titik panas di Kalteng kebanyakan berada di Kota Waringin Timur 21, Lamandau 14, Katingan 11, Seruyan 6 dan Ketapang 3. Sumber api berasal dari pembukaan kebun dan pertanian dengan cara membakar. Pada Selasa (13/9) satelit NOAA juga mendeteksi kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat dengan 185 titik panas. Sebarannya adalah Sanggau 40, Kepatang 30, Sintang 45, Sekadau 54, Landak 6, Kapuas Hulu 3 dan Melawi 4. “Kebakaran hutan dan lahan yang terus marak berlangsung sejak lima hari terakhir menyebabkan asap menyebar,” ucapnya. Berdasarkan pantauan satelit Himawari (14/9/2016) pukul 14.00 WIB terlihat sebaran asap tipis di Kalimantan Barat dan dan Kalimantan Tengah. Asap tipis di Kalimantan Barat terdapat di Kabupaten Ketapang (daerah Hulu Sungai, Simpang Hulu), Kabupaten Melawi (daerah Tanah Pinoh, Belimbing), Kabupaten Sintang (daerah Sepauk, Ketunggau Tengah, Ketunggau Hulu, Kayan Hulu), Kabupaten Sekadau (daerah Sekadau Hulu, Belitang Hulu) dan Kabupaten Kapuas Hulu (daerah Silat Hulu). Sedangkan sebaran asap tipis di Kalimantan Tengah meliputi Kabupaten Kota Waringin Timur (daerah Antang Kalang), Kabupaten Lamandau (daerah Bulik Tim) dan Kabupaten Katingan (daerah Sanaman Mantikei, Marikit, Katingan Hulu). “Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan terus dilakukan hingga saat ini,” ujarnya. Sebanyak 2.492 personel gabungan dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar dan masyarakat peduli api melakukan pemadaman di darat di Kalimantan Barat Sedangkan di Kalimantan Tengah sebanyak 2.363 personel memadamkan di darat. Untuk operasi udara BNPB mengerahkan 4 heli water bombing dan 1 pesawat Casa hujan buatan. Heli jenis Bolcow, Bell 214 dan MI 172 terus memadamkan dari udara. Fokus pemadaman, Rabu (14/9) adalah di area 5-10 NM (Nautical Miles) dari Bandara Supadio agar bandara tidak tertutup asap. Sedangkan pesawat hujan buatan masih siap dalam posisi standby karena tidak ada awan potensial yang dapat disemai menjadi hujan. Di Kalimantan Tengah, BNPB mengerahkan 4 heli water bombing jenis Bell 214B dan Kamov KA32 yang sekali terbang mampu membawa 4.000 liter air. Lokasi titik panas yang jauh dan banyak menyebabkan tidak semua lokasi kebakaran dapat dipadamkan dari udara. “Sumber air juga jauh dengan lokasi kebakaran sehingga helikopter tidak mampu bermanuver banyak melakukan water bombing,” ucapnya. Dikatakan Sutopo, tim darat juga mengalami kendala yang sama yaitu terbatasnya sumber air untuk memadamkan. Begitu juga lokasinya sulit dijangkau sehingga sulit dipadamkan. Ditambah lagi pembakaran dengan sengaja masih terus dilakukan sehingga titik panas masih terus banyak ditemukan. Ari Supriyanti Rikin/IDS Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu