Setelah Inggris, Pemerintah Islandia Juga Boikot Piala Dunia 2018

Gelombang protes pemerintah sejumlah negara Eropa terhadap Rusia meluas. Kali ini, Pemerintah Islandia berencana memboikot Piala Dunia 2018 karena proses percobaan pembunuhan kepada seorang agen ganda asal Rusia di Inggris.

“Sampai situasi menjadi jelas, Islandia menghentikan sementara dialog bilateral di tingkat tertinggi dengan Rusia. Oleh karena itu, perwakilan negara tidak akan mengunjungi Piala Dunia musim panas ini,” demikian pernyataan resmi Pemerintah Islandia seperti dilansir BolaSport.com dari AFP.

Boikot itu terjadi menyusul sikap Rusia yang diduga Pemerintah Inggris melakukan percobaan pembunuhan kepada Sergei Skripa; dan putrinya, Yulia, di Salisbury pada 4 Maret lalu. Mereka ditemukan tak sadarkan diri di sebuah mal.

Dalam tubuh mereka, Pemerintah Inggris menemukan senyawa kimia bernama Novichok. Senyawa tersebut merupakan racun saraf paling mematikan yang diciptakan pada era Uni Soviet, negara adi daya sebelum pecah menjadi Rusia.

Kremlin kemudian membalas Inggris dengan mengusir 23 diplomat, serta menghentikan kantor organisasi internasional British Council (17/3/2018). Hal ini menimbulkan efek domino.

Presiden Uni Eropa (UE) Donald Tusk berkata, terdapat 14 negara yang sudah mengumumkan persona non grata (tidak menginginkan) diplomat Rusia di negara mereka.

Keputusan Inggris ini diikuti oleh beberapa negara Eropa. Senin (26/3/2018), Pemerintah Islandia melakukan langkah serupa.

“Hari ini kami berbicara dengan menteri luar negeri Islandia, yang memberi tahu kami tentang posisi resmi pemerintahnya atas serangan terhadap warga kami di Salisbury pada tanggal 4 Maret 2018,” demikian tulis keterangan resmi Pemerintah Inggris di situs pemerintahan Islandia.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, telah lebih dulu bersikap. The Three Lions – julukan timnas Inggris – dipastikan takkan ditemani perwakilan pemerintah Inggris ketika berlaga di Rusia 2018.

Related Post