MENANTI UJIAN KESEMPURNAAN MANCHESTER CITY

Aktivitas belanja besar nan efektif mengubah wajah The Citizens menjadi mesin gol yang menakutkan dengan gaya permainan atraktif.

Tanpa diragukan lagi Manchester City yang sekarang sudah tampak berbeda dengan tim yang sama dalam kampanye Liga Primer Inggris musim lalu, hasil belanja besar £220 juta tak berbohong dan performa mereka di awal musim 2017/18 ini menjadi jawabannya.

Musim lalu, The Citizens menutup perjalanan panjang mereka dengan hampa gelar. Dalih adaptasi debut Pep Guardiola yang menyesuaikan dengan gaya Liga Primer pun bermunculan serta adanya perombakan besar di tubuh skuat, seperti pendepakan Joe Hart sebagai kiper utama yang digantikan Claudio Bravo. Pembelaan atas keterpurukan tersebut memang terdengar wajar dan bisa dimaklumi.

Sebenarnya catatan baus sama-sama dibukukan City baik di awalan musim lalu dan sekarang. Enam kemenangan beruntun di awal musim lalu berhasil diraih City, tapi kesempurnaan mereka runtuh setelah takluk 2-0 dari Tottenham Hotspur di Oktober. Setelah itu, mental tim seperti terguncang dengan hanya bermain imbang dalam tiga dari empat laga berikutnya dan bahkan tercecer di urutan kelima sekaligus kans juara mereka mulai diragukan selepas menelan tiga kekalahan tambahan di periode Desember.

Namun situasinya berubah drastis musim ini, City menutup laga pekan kedelapan dengan memantapkan posisi di puncak, unggul dua angka atas rival sekota mereka Manchester United yang membuat fans mereka merasa bosan dengan permainan tim yang hanya bermain imbang tanpa gol lawan Liverpool.

Selain tetap berhasil menjaga kesempuraan performa sejauh ini, pasukan Manchester biru juga mencatatkan rekor berkat ketajaman barisan depan. Total memasukkan 29 gol membuat mereka menjadi tim dengan tingkat produktivitas terbaik dalam delapan laga awal di Liga Primer, atau kasta tertinggi kompetisi Inggris sejak Everton dengan 30 gol namun pada musim 1894/95.

Vaseline Men - Produktifitas Manchester City grafis REV

Apa yang menjadi kunci perbedaan? Salah satunya seperti yang tertulis pada akhir paragraf pertama, aktivitas transfer yang efektif menjadi jawabannya.

Yang utama pada sektor bek sayap. Guardiola jelas senang melihat keputusannya melepas sejumlah penggawa veteran seperti Bacary Sagna, Gael Clichy, Aleksandar Kolarov hingga ikon tim, Pablo Zabaleta untuk digantikan oleh sederet wajah baru nan segar dengan dana lebih dari separuh total pengeluaran transfer musim panas. Memang banyak yang mencibir langkah City dalam membenahi lini tersebut, tapi kini para peragu tampaknya mulai terdiam.

Masuknya tiga bek sayap baru, Kyle Walker, Benjamin Mendy, Danilo serta Fabian Delph yang dipaksa menjadi bek kiri dadakan menghadirkan dimensi baru. Mereka menawarkan kecepatan, penempatan posisi serta akurasi umpan yang lebih baik ketimbang pendahulu mereka. Hal itu memudahkan Guardiola untuk bisa melakukan kegemarannya dalam memainkan posisi inverted full-back , maksudnya dalam peran ini para bek sayap lebih mengontrol aliran bola dengan melakukan tusukan ke tengah lapangan hingga menciptakan situasi padat dan membuat lawan kesulitan untuk mengimbangi penguasaan bola.

Laga melawan Cheslea pada dua pekan lalu menjadi contoh nyata efektivitas skema ofensif Guardiola. Itu merupakan salah satu ujian terberat City di awal musim ini, namun berhasil dilalui dengan torehan kemenangan 1-0. Skor memang tipis, tapi secara garis besar permainan, sang juara bertahan dibuat mati kutu di kandang sendiri.

John Stones Kyle Walker Manchester City

Ederson Manchester City

Barisan belakang City semakin lengkap dengan hadirnya Ederson Moraes yang menggusur eksistensi Bravo setelah kerap mendapatkan kritikan pedas sebagai kiper utama musim kemarin. Dibeli dengan banderol mewah £35 juta dari Benfica, Ederson adalah tipe sweeper-keeper , atau kiper yang mampu untuk mengontrol dan mengomandoi ruang di belakang lini pertahanan, dan aktif berpartisipasi dalam pembangunan serangan, adalah idaman Guardiola.

Pemain berusia 24 tahun asal Brasil itu selain mendatangkan tambahan kualitas, juga menyuguhkan ketenangan yang mampu mengangkat mental dan moral rekan-rekan beknya. Nicolas Otamendi dan John Stones pun menjadi duo sosok yang tampak berbeda, mampu tampil lebih rapi dalam organisasi permainan.

Jika kesempurnaan City ini terus berlanjut sama seperti yang ditunjukkan saat melumat Stoke City pada akhir pekan kemarin dengan skor fantatis 7-2, bukan tak mungkin trofi Liga Primer akan mampir ke Etihad Stadium untuk ketiga kalinya di akhir musim ini.