Kontroversi yang Perpanjang Derita ManCity

Tiga kekalahan beruntun, harus ditelan Manchester City dalam tempo yang berdekatan. Dan, Liverpool memberikan dua dari tiga kekalahan tersebut.

Pertama, saat keduanya berduel di leg 1 perempatfinal Liga Champions, 4 April 2018. Kala itu, Liverpool menghajar ManCity dengan skor 3-0.

Berlanjut di derby Manchester. Sempat unggul dua gol atas Manchester United, ManCity akhirnya menanggung malu di kandangnya, Etihad Stadium, lantaran kejebolan tiga kali.

Laga melawan Liverpool di leg 2 perempatfinal, sebenarnya ditargetkan untuk jadi momentum kebangkitan ManCity. Malang tak dapat ditolak, ManCity kalah lagi.

Bermain agresif, mencetak gol lebih dulu, ManCity malah dibuat tak berkutik oleh aksi Mohamed Salah dan Roberto Firmino. Kehabisan bensin?

Ada beberapa hal yang patut disorot dalam pertandingan ini. Secara teknis, pertahanan ManCity memang rapuh.

Itu adalah risiko yang wajar dalam penerapan permainan menyerang ala Pep Guardiola. Apalagi, Guardiola hanya menempatkan tiga bek saat jumpa Liverpool, skema yang tak wajar bagi ManCity.

Kepanikan paling parah adalah saat Sadio Mane dan Mohamed Salah membangun kolaborasi serta bermanuver pada menit 56.

Ketika itu, barisan belakang ManCity kesulitan mengadang pergerakan Mane dan Salah. Ketika Salah memberikan umpan ke Mane, bola langsung dikontrol olehnya.

Hanya satu gerakan, Mane mampu menipu Nicholas Otamendi. Kiper ManCity, Ederson Moraes, sebenarnya mampu mengantisipasi pergerakan Mane.

Tapi, saat itu Ederson tak mampu menangkap bola dengan lengket. Bola liar akhirnya disambar Salah yang tak terkawal. Tanpa kesulitan, winger 25 tahun itu menceploskan bola ke gawang ManCity.

Pun saat terjadi gol kedua Liverpool. Roberto Firmino terlihat begitu bebas masuk ke dalam kotak penalti ManCity.

Tak ada pemain belakang yang melapis Ederson. Hingga akhirnya, Firmino sukses menjebol gawang Ederson dari sudut yang sempit.

Terlalu rapuh, ya itulah ManCity dalam tiga laga terakhir. Sudah delapan gol yang tercipta dalam kurun waktu satu pekan. Tentu, ini jadi PR besar bagi Guardiola.

Namun, menurut Guardiola, dalam pertemuan kedua melawan Liverpool, sebenarnya bukan faktor teknis dari kedua tim yang menentukan hasil.

Pria 47 tahun tersebut  menuding wasit Antonio Mateu Lahoz yang menjadi penyebab kekalahan ManCity. Banyak kesalahan fatal yang dibuat Lahoz di duel melawan Liverpool, disebutkan Guardiola.

Salah satu yang paling parah adalah dianulirnya gol Leroy Sane pada menit 42. Memang, keputusan Lahoz serta asistennya salah.

Karena, masih ada satu pemain Liverpool yang berdiri di depan Sane. Dari tayangan ulang, sangat jelas posisi Sane masih onside.

“Kedua tim sangat, sangat bagus dalam bermain. Yang membuat hasilnya berbeda adalah keputusan dari wasit,” kata Guardiola dikutip BT Sport.

“Saya bisa dengan tegas menyatakan, gol Sane adalah sah! Saya tak mau menyerangnya, saya jujur dan benar. Tapi, Mateu Lahoz orang yang spesial. Dia suka hal yang berbeda, dan ingin jadi spesial,” lanjutnya sambil meracau.

 

Andai disahkan, Guardiola yakin hasil pertandingan akan berbeda. Sebab, bagi Guardiola, satu gol pun sangat berarti dalam ajang seketat Liga Champions.

“Pasti beda. Dalam kompetisi seperti ini, dampaknya begitu besar. Saya sudah bicara dengan wasit, dan tahu dia berasal dari Spanyol. Saya juga kenal dengannya. Tapi, ayolah, Liverpool pantas lolos dan semoga mereka bisa mempertahankan gengsi Inggris di semifinal,” ujar Guardiola.

Related Post