Kisah Hidup Mathieu Flamini, Sengsara Membawa Nikmat

Nama Mathieu Flamini mencuat setelah majalah Amerika Serikat, Forbes, menyebutnya sebagai pemain terkaya di dunia. Eks pemain Arsenal dan AC Milan yang kini berseragam Getafe itu mengalahkan kekayaan milik Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi.

Forbes mengungkapkan bahwa Flamini memiliki aset hingga Rp 206,3 triliun. Jumlah itu mengalahkan aset Ronaldo sebesar Rp 8,4 triliun dan Lionel Messi Rp 3,1 triliun.

Melonjaknya kekayaan Flamini tak lepas dari bisnisnya di bidang bio kimia. Dia merupakan pemilik perusahaan bernama GF Biochemicals yang memproduksi levulinic acid (LA), bahan kimia yang bisa mengolah sampah menjadi bahan bakar.

Kisah pendirian perusahaan yang berbasis di Italia itu tak lepas dari perjalanan karir Flamini sebagai pesepakbola. Semua itu berawal dari kegelisahannya bermain untuk Arsenal pada 2008 lalu, itu adalah musim keempat Mathieu Flamini berseragam The Gunners.

Meskipun sudah cukup lama berada di Stadion Highburry, markas Arsenal saat itu, Flamini tak juga dapat menembus tim utama Arsenal. Dia terus menyandang predikat sebagai pemain cadangan.

Gerah dengan kondisi itu, Flamini lantas memaksa Arsenal untuk melepasnya. Dia melakukan penelitian soal kontraknya dan aturan FIFA dan berkesimpulan bahwa pada tahun ketiga kontraknya yang akan segera berakhir, dia berhak untuk membatalkan kesepakatan, membayar sejumlah kecil kompensasi kepada Arsenal dan mencari klub lain di luar negeri.

Kepergiannya ke Italia juga bukan sebuah ketidaksengajaan. Flamini tampak tahu bahwa di negeri pizza itu dia akan mendapatkan sesuatu yang besar. Karena itu, dia langsung berupaya agar media-media Italia tahu bahwa dirinya ingin bermain disana.

Caranya adalah dengan langsung mengiyakan tawaran media negara asalnya, So Foot, untuk wawancara dan meminta mereka juga menyiarkannya ke Italia, Jerman dan Spanyol. Umpan Flamini ternyata sukses. Setelah So Foot, media lainnya seperti France Football, L’Equipe serta media Italia Gazzetta dello Sport lantas menyiarkan kabar yang akhirnya hinggap ke kuping para petinggi AC Milan.

Upaya Arsenal untuk menahan Flamini pun kandas. Meskipun Arsene Wenger berjanji untuk memberikan kesempatan lebih kepadanya, pesepakbola yang memulai karirnya di Marseille itu pun tetap angkat koper ke AC Milan.

Di kota mode Italia itu peruntungan Flamini di dalam lapangan tak berubah. Dia tetap menyandang status sebagai pemain cadangan di sana.

Namun peruntungan Flamini di luar lapangan berubah 180 derajat. Semuanya berawal dari pertemuan dia dengan Pasquale Granata tak lama setelah dia hijrah ke Milan. Flamini dan Granata sama-sama memiliki minat di bidang lingkungan hidup, perubahan iklim dan alam.

Keduanya lantas sepakat memulai proyek di bidang bio kimia dengan mendirikan GF Biochemichal. GF merupakan kepanjangan dari Granata-Flamini. Perusahaan itu fokus untuk mencari pengganti bahan bakar minyak bumi.

Butuh penelitian selama 8 tahun sebelum akhirnya perusahaan tersebut menemukan teknologi untuk memproduksi Levulinic Acid (LA) dalam skala industrial. Levunilic Acid, menurut Departemen Energi Amerika, sebagai satu dari 12 molekul potensial sebagai pengganti bahan bakar minyak bumi.

“Kami memiliki teknologi yang bisa membuat kami memproduksi levunilic acid dengan ongkos yang jauh lebih murah ketimbang para pesaing. Dalam hal ini kami unggul,” kata Pasquale dalam sebuah wawancara.

Kini, perusahaan milik Pasquale dan Mathieu Flamini tersebut sudah mampu memproduksi 10 ribu ton LA dalam setahun. Tahun depan mereka berencana memperbesar skala produksi perusahaan mereka menjadi 50 ribu ton.

Related Post