Genderang Harapan dari Sudut Kota Bontang

Marching band adalah pagelaran musik yang menciptakan kekaguman bagi siapa saja yang menikmatinya. Perpaduan alat-alat musik yang harmonis, visualisasi yang apik, hingga barisan yang berirama membuat penonton enggan beranjak. Singkat kata, acara ini digemari semua kalangan. Tentu, dibutuhkan kerja keras dan kedisiplinan tinggi untuk menampilkan pertunjukan marching band terbaik. Apalagi, permainan ini tidak dilakukan oleh satu-dua orang saja. Ada banyak kepala yang harus bersinergi agar bisa mendapatkan hasil maksimal. Baca Juga Pemerintah siapkan UN menjadi ujian sekolah standar nasional Ciptakan rekayasa kopi luwak, mahasiswa ini raih medali emas Umrah Lebih dari Sekali Kena Biaya Visa Novel 12 Menit merupakan novel yang menggambarkan lika-liku perjuangan Marching Band Pupuk Kaltim, Bontang. Mereka telah delapan bulan berlatih demi meraih gelar juara GPMB (Grand Prix Marching Band) tingkat nasional di Jakarta. Sayang, belum ada kemajuan berarti. Heri, sang pelatih, sampai sebal karena grafik latihan tidak stabil. Naik, turun. Naik sedikit, turun lebih banyak. Atau turun, turun, dan turun (halaman 2). Maka dari itu, perusahaan memutuskan mendatangkan pelatih baru bernama Rene. Lulusan Fakultas Music Education and Human Learning sebuah universitas di Amerika Serikat tersebut memilik rekam akademik bagus, juga prestasi membanggakan. Tujuh tahun dia bergabung dalam Phantom Regiment, kelompok marching band berskala internasional (halaman 10). Sekembalinya ke tanah air, dia berhasil membawa anak didiknya di Jakarta meraih juara GMPB tiga kali berturut-turut! Rene menjadi ujung tombak kemenangan. Di sinilah lika-liku semakin menukik dan tajam. Ada beberapa anak didik yang mengalami kemelut batin. Sebut saja Tara. Sudah satu tahun dia menjadi cadet band , anggota pra-tim inti, dan akhirnya lolos masuk tim inti. Awalnya dia bahagia. Namun, gara-gara belum fokus, sering melakukan kesalahan yang sama, hingga ditegur Rene yang mengungkit kelemahan pendengaran yang dideritanya, Tara jadi bimbang untuk meneruskan cita-citanya (halaman 141). Tara masih hidup di bawah bayang-bayang masa lalu. Perempuan manis itu tinggal bersama kakek dan neneknya. Sang ibu kuliah di Inggris, tak juga pulang. Sifat Rene yang keras kontras dengan Tara yang sensitif. Tara gamang. Rene berusaha memahami bahwa jalan yang ditempuhnya tidak harus sama dengan saat ia melatih di Jakarta. Salah satu hal yang harus selalu diingatkannya adalah harapan. Harapan dan mimpi bahwa siapa pun bisa meraih cita-cita asal mau berjuang. Bagaimana lanjutan cerita Tara dan Rene? Berhasilkah marching band Pupuk Kaltim Bontang meraih juara GPMB? Bagaimana nasib yang lainnya? Novel ini tergolong cukup tebal karena tersusun atas 384 halaman. Namun pembaca bisa perlahan membacanya karena terbagi menjadi 50 bab. Konflik batin para tokohnya cukup terasa, apalagi pada bab-bab terakhir. Selain Rene dan Tara, novel juga menyorot dua tokoh lain yakni Lahang dan Elaine. Novel yang merupakan adaptasi dari film berjudul sama ini bisa membangkitkan semangat pembaca untuk berjuang, khususnya di bidang musik. Di dalamnya disuguhkan canda, tawa, dan air mata. Sebagai catatan, akan lebih baik jika nama alat musik dideskripsikan lebih jelas karena tidak semua alat musik dicantumkan dalam glosarium.* _____________________________ Judul : 12 Menit Pengarang : Oka Aurora Penerbit : Noura Books, Mizan Terbit : I, Mei 2013 Tebal : 348 halaman ISBN : 978-602-7816-33-6 Peresensi : Sri Mulyati, lulusan Sekolah Tinggi Akuntansi Negara Sponsored Telah Launching Rimanews Android Apps KATA KUNCI : Buku , Harapan , Genderang , Bontang , Buku , Harapan , Genderang , Bontang , Buku , Harapan , Genderang , Bontang

Sumber: RimaNews