DARI YNWA HINGGA GGMU – NYANYIAN FANS TERBAIK DI LIGA PRIMER INGGRIS

Sepakbola tak melulu tentang pertandingan sebelas lawan sebelas, tapi dua belas lawan dua belas (ditambah fans, tentunya).

Bicara soal sepakbola modern tentu tak bisa lepas dari pembicaraan tentang klub, pemain, dan suporter. Tiga unsur itu saling memenuhi satu sama lain dan tak bisa berdiri seandainya satu aspek hilang. Sehebat apa pun pemain dan klub, misalnya, bakal terasa hampa jika tak punya suporter yang mendukung mereka dari tribun stadion.

Sebagai salah satu kompetisi akbar sepakbola, Liga Primer Inggris disebut sebagai salah satu kompetisi yang menyadari pentingnya sinergi ketiga unsur tersebut. Tak heran, fans sepakbola Inggris selalu kreatif dalam menggubah nyanyian dukungan. Berbeda dengan koreografi ala Italia atau tepuk Viking di Islandia, chant atau nyanyian jadi daya tarik tersendiri dari negara Big Ben itu.

Beberapa chant yang dinyanyikan itu bahkan ikut terpopulerkan di kalangan fans sepakbola internasional. Betapa tidak, sorak-sorai bernada itu berulang kali dinyanyikan oleh suporter dan ikut tersebarluaskan berkat tayangan televise langsung. Bahkan tidak jarang, nyanyian fans tersebut lebih menarik didengarkan daripada menonton pertandingannya sendiri.

Guna mengingatkan pentingnya peran fans dewasa ini, Goal Indonesia akan membagikan daftar chant menarik dari Liga Primer Inggris. Beberapa di antaranya terdengar konyol, mengharukan, atau bahkan kelewat mengejek. Namun akan dipilih yang paling memorable dan mudah diingat plus dinyanyikan.

Sepakbola tak melulu tentang pertandingan sebelas lawan sebelas, tapi dua belas lawan dua belas (ditambah fans, tentunya).

  1. You’ll Never Walk Alone – Liverpool

“Walk on, walk on with hope in your heart and you’ll never walk alone !”. Nyanyian tersebut tentu tidak asing di telinga publik Anfield dan penonton Liga Primer Inggris. Bisa dikata, YNWA merupakan lagu wajib Liverpool sebelum pertandingan dimulai.

Dipopulerkan oleh band asal Inggris, Gerry and The Peacemakers, lagu YNWA mulai dinyanyikan oleh Kopites pada era Bill Shankly. Nyanyian tersebut dianggap mampu meninggikan moral Liverpool jelang pertandingan. Kini, ia jadi ritual wajib sebelum mendukung The Reds .

Lagu tersebut juga dinyanyikan oleh klub-klub Eropa lain untuk memberi dukungan kepada pemain – Borussia Dortmund dan Celtic, misalnya – namun lebih dikenal sebagai anthem dari fans Liverpool.

  1. Glory, Glory Man United – Man United, Tottenham Hotspur

Di jalanan, tribun, atau di mana pun ada fans Manchester United, nyanyian ini tidak pernah tidak dinyanyikan ketika sedang menonton pertandingan. “Glory, Glory Man United” dinyanyikan layaknya himne sebelum perang, hal yang sejatinya tidak meleset jauh dari sejarahnya.

Nomor ini memiliki judul asli “The Battle Hymn of the Republic / Glory, Glory Hallelujah”. Lagu patriot ini sering dinyanyikan pada zaman perang dan dimaksimalkan untuk mengangkat semangat para pejuang. Di era modern, lagu tersebut kembali jadi mars praperang – namun kali ini perang di lapangan hijau.

Populer di kalangan fans Setan Merah, adaptasi “Glory, Glory Hallelujah” ini juga kerap kali dinyanyikan oleh fans Tottenham Hotspur.

  1. I’m Forever Blowing Bubbles – West Ham

“ I’m forever blowing bubbles, Pretty bubbles in the air, They fly so high, Nearly reach the sky ”. Jika Liverpool punya YNWA dan Man United punya GGMU, West Ham punya ritual uniknya sendiri. “I’m Forever Blowing Bubbles” itu menjadi lagu wajib The Hammers sebelum pertandingan dimulai.

Uniknya lagi, para fans tidak hanya menyanyikan lagu ini, tetapi juga memanifestasikan apa yang mereka nyanyikan. Jelang laga, mereka selalu menyiapkan cairan sabun dan meniupkan gelembung. Pemandangan ribuan gelembung sabun pun jadi pemandangan wajar sejak di markas Boleyn Ground.

Lagu ini sendiri sudah populer di awal abad ke-20 dan diperkenalkan oleh Original Dixieland Jazz Band di Britania Raya.

  1. When the Saints Go Marching In – Southampton

Lagu gereja ini diperkenalkan oleh Louis Armstrong bersama orkestranya, namun justru jadi mars wajib Southampton di setiap pertandingan. Penggunaan nomor ini sendiri terkesan wajar, mengingat Southampton memiliki julukan The Saints .

“ Oh, when the saints. Go marching in. Oh, when the saints go marching in. Oh how I want to be in that number when the saints go marching in.” . Dengung nada ini selalu mengiringi para pemain The Saints ketika memasuki stadion, hingga pertandingan di St. Mary’s Stadium dimulai.

  1. Steve Gerrard, Gerrard – Liverpool

Mengadaptasi “Que Sera, Sera” dari The Beatles, Kopites selalu mendengungkan lagu ini setiap kali Steven Gerrard membawa bola. Chant unik ini selalu dikenang oleh publik, terutama ketika para fans menyebut: “ He’s better than Frank Lampard, Steve Gerrard, Gerrard ”.

Sayang, para suporter lawan juga tak kalah kreatif dari fans Liverpool. Layaknya bumerang, nyanyian itu gantian dipakai untuk menyerang sang legenda Liverpool. Mereka mengenang momen terpelesetnya Gerrard di depan Demba Ba – sebuah insiden yang membuat The Reds gagal juara di musim 2013/14.

“ Steve Gerrard, Gerrard. He slipped on his ****ing arse. He gave it to Demba Ba. Steve Gerrard Gerrard ”. Kurang lebih begitulah lirik senjata balasan dari fans lawan.

  1. Ryan Giggs Down The Wing – Man United

Ryan Giggs merupakan legenda Manchester United. Ketika masih bermain sebagai  winger , Giggs disebut sebagai salah satu yang terbaik di dunia. Para fans pun mengabadikan pemandangan tersebut dalam satu bait  chant .

” Ryan Giggs Ryan Giggs running down the wing, feared by the blues, loved by the reds, Ryan Giggs Ryan Giggs Ryan Giggs “. Sorak ini merupakan bagian dari lagu yang mengumandangkan bintang-bintang dari  Class of ’92 . Selain Giggs, Gary Neville, David Beckham, dan Roy Keane juga disebut dalam  chant  ini.

  1. Blue Moon – Manchester City

” Blue Moon, you saw me standing alone, without a dream in my heart, without a love of my own. Blue Moon, you nkew just what I was ther for. You heard me saying a prayer for someone I really could carefor. 

Petikan lirik lagu “Blue Moon” itu merupakan bagian yang dinyanyikan paling lantang oleh fans  The Citizens . Nyanyian kenangan ini sempat tenggelam, tapi kembali naik dalam beberapa tahun terakhir – seiring performa Man City ikut menanjak.

Di awal era Liga Primer Inggris, Man City mengalami fluktuasi performa. Adapun nasib mereka berubah sejak Sheikh Mansour mengambil alih. Kini, sudah dua trofi Liga Primer dimenangkan oleh mereka.

  1. Only One Arsene Wenger – Arsenal

” One Arsene Wenger, There’s only one Arsene Wenger, There’s ony one Arsene Wenger .”

Nasib Wenger di Arsenal boleh saja naik – turun, namun  chant  untuk Arsene Wenger tak pernah mereda. Manajer asal Prancis itu sudah memimpin  The Gunners  sejak 1996 dan tetap dipertahankan oleh jajaran direksi klub.

Keraguan sempat berulang kali muncul, namun di pengujung musim, fans Arsenal selalu menyanyikan nomor ini untuk Wenger. Lagu yang sederhana, namun Wenger mengaku terhibur dan terharu karena nyanyian ini.

  1. Can’t Help Falling In Love With You – Hull City, Sunderland

Lagu ini dipopulerkan oleh Elvis Presley, namun dewasa ini fans klub-klub Inggris selalu menyanyikannya. Hull City dan Sunderland jadi klub yang cukup sering mengumandangkannya.

Di final Piala Liga 2014,  The Black Cats  bahkan menjadikan nomor ini sebagai lagu utama. Sayang, mereka kalah 3-1 dari Manchester City dan harus pulang dengan tangan hampa.

Adapun lagu ini tetap dikenang dan dinyanyikan oleh para fans dari tribun Stadium of Light.

  1.  Hey Jude – Leicester City, Arsenal, Spurs

The Beatles menciptakan lagu ini dan menjadikannya hits dunia pada pertengahan abad ke-20. Tak heran, dunia masih mengenang lagu ini, termasuk para fans sepakbola.

Leicester City, Arsenal, dan Tottenham Hotspur menjadikan  refrain  dari lagu ini sebagai bagian dari  chant . Hanya saja, nama Hey Jude diganti dengan nama pemain kesayangan mereka, atau bahkan nama klub.

Seperti Arsenal, misalnya, menyelipkan nama Olivier Giroud dalam lagu tersebut. Spurs mengganti Hey Jude dengan Toby [Alderweireld] dan  The Foxes menyelipkan Leicester di dalamnya.