Penerbangan Susi Air Jalur Muara Teweh-Palangkaraya Distop

Suara.com – Maskapai Susi Air menghentikan pelayanan penerbangan bersubsidi pemerintah pusat rute Muara Teweh Kabupaten Barito Utara ke Palangka Raya, Kalimantan Tengah mulai 31 Desember 2015. “Hari ini penerbangan terakhir Muara Teweh-Palangka Raya karena kontrak kerja sama subsidi tahun 2015 telah berakhir,” kata petugas Bandara Beringin Muara Teweh, Akhmad Sidik, Rabu (30/12/2015). Penerbangan Susi Air bersubsidi dari pemerintah pusat untuk rute Muara Teweh-Palangka Raya pulang pergi (PP) dengan frekuensi tiga kali sepekan (Rabu, Jumat, dan Minggu) dengan harga tiket masing-masing dewasa sekitar Rp400.000. PT KAI: Tarif Sejumlah KA Turun 1 April 2016 Kontrak kerja sama bersubsidi tahun ini (2015) telah berakhir, sehingga tidak diketahui kapan lagi dibuka penerbangan tersebut hingga tahun 2016 nanti. “Belum diketahui siapa pemenang tender penerbangan bersubsidi di Kalteng tahun depan, karena belum menerima Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA). Diperkirakan penerbangan bersubsidi akan beroperasi lagi pada Maret 2016,” katanya. Menurut Sidik, Susi Air tetap melayani rute Muara Teweh-Balikpapan, Kalimantan Timur dan Muara Teweh-Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Penerbangan Susi Air setiap hari rute Muara Teweh ke Bandara Sepinggan Balikpapan dan Bandara Syamsudin Noor Banjarmasin menggunakan pesawat Cessna berpenumpang 12 orang dengan harga tiket relatif mahal sekitar Rp1,5 juta/orang. “Meski mahal namun hampir setiap hari selalu penuh penumpangnya, baik yang datang maupun berangkat,” katanya. Seorang warga, Yaser Arapat mengatakan, penghentian penerbangan Susi Air ke daerah ini sangat dirasakan warga karena transportasi udara merupakan jasa angkutan alternatif yang cepat terutama di Kabupaten Barito Utara yang letaknya di pedalaman Kalteng. “Kalau kita menggunakan angkutan darat, jarak tempuh ke Palangka Raya relatif lama sekitar 7 jam dan ke Banjarmasin mencapai sembilan jam,” katanya. Sedangkan bila menggunakan jasa maskapai lainnya sangat menyulitkan warga karena harga tiket penerbangan relatif tinggi. “Kami mengharapkan Pemkab Barito Utara bisa mengalokasikan dana subsidi penerbangan baik didanai APBD kabupaten maupun APBN sehingga dengan tiket murah sangat membantu warga,” katanya. Susi Air adalah maskapai penerbangan Indonesia yang dioperasikan oleh PT ASI Pujiastuti Aviation dengan penerbangan berjadwal dan charter. Berkantor-pusat di Pangandaran, Jawa Barat, Susi Air beroperasi dari lima pangkalan utamanya di Medan, Jakarta,Balikpapan, Kendari, Bandung, Cilacap, dan Sentani. Namun maskapai Susi Air masih terdaftar pada daftar maskapai penerbangan dilarang di Uni Eropa. Maskapai Susi Air didirikan pada akhir 2004 oleh Susi Pudjiastuti yang kini menjabat sebagai Menteri Kelautan dan Perikanan. Susi Air awalnya didirikan untuk mengantarkan muatan perikanan milik perusahaan lain Susi, PT ASI Pudjiastuti. Gempa bumi Samudera Hindia 2004 yang terjadi di pesisir barat Sumatra beberapa saat setelah dua pesawatCessna Grand Caravan pertama Susi Air dipesan, langsung digunakan untuk membantu pengiriman peralatan dan obat-obatan bagi regu penolong. Pada 2005 Grand Caravan ketiga bergabung dengan armada Susi Air sehingga Susi Air dapat memulai penerbangan berjadwal dari Medan. Selanjutnya selain beberapa Grand Caravan tambahan, Diamond Twin Star, Pilatus Turbo Porter dan Diamond Diamond Star pun ditambahkan ke dalam armada Susi Air. Pada Juni 2009, Susi Air mengumumkan bahwa mereka telah memesan 30 pesawat Grand Caravan di Paris Air Show.[2] Bulan berikutnya, Piaggio Avanti pertama Susi Air mulai digunakan. Susi Air kini merupakan maskapai yang menjadi operator terbesar Cessna Grand Caravan di kawasan Asia Pasifik. (Antara)

Sumber: Suara.com