Soal Dugaan Pengaturan Skor, JK: Buktikan, Lalu Bawa ke Ranah Hukum!

4d Singapore Metrotvnews.com, Jakarta: Timnas Indonesia U-23 gagal meraih medali di ajang Sea Games di Singapura 2015. Timnas tumbang dari Thailand di Semifinal dan Myanmar saat memperebutkan posisi ketiga. Kekalahan Indonesia saat melawan Myanmar, Senin 15 Juni, cukup tragis. Lima gol bersarang di gawang timnas Indonesia ketika itu. Sehari setelah kekalahan itu, muncul dugaan pertandingan guna merebutkan medali perunggu itu direcoki mafia sepak bola. Baca juga Terlibat Suap, FIFA Hukum Presiden Sepak Bola Nepal dan Laos Komdis PSSI Resmi Jatuhkan Sanksi kepada Empat Tersangka Kasus Suap Bongkar Skandal “Sepak Bola Gajah”, 4 Pemain PSS Dipanggil Komdis PSSI Brandconnect Mengenal Lebih Dekat Penjara Tasmania di Hobart Kasus pengaturan skor yang melibatkan timnas Indonesia dan sejumlah klub di tanah air muncul ke permukaan setelah seseorang berinisial BS sebagai pelaku memberikan laporan ke Bareskrim Mabes Polri, Selasa 16 Juni. BS yang didampingi oleh sejumlah lembaga bantuan hukum melaporkan tentang adanya tindak pidana penyuapan di beberapa kasus persepakbolaan Indonesia dalam kurun tahun 2000 hingga 2015. Wakil Presiden Jusuf Kalla dengan tegas mendukung pihak yang ingin membongkar kejahatan pengaturan skor di pertandingan Indonesia v Myanmar itu. JK juga meminta pelaku dibawa ke ranah hukum. “Kalau bisa buktikan. Kemudian bawa ke ranah hukum,” tegas JK di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Rabu (17/6/2015). Kasus ini sama mirip dengan yang menimpa Federasi sepak bola internasional (FIFA) beberapa waktu lalu. Ketika itu, beberapa petinggi FIFA ditangkap karena terlibat kasus dugaan korupsi. “Sama dengan FIFA kalau ada yg salah ya hukum. Asal bisa dibuktikan,” tandas JK. Rekaman pembicaraan yang diduga upaya pengaturan skor pertandingan sepak bola SEA Games 2015 dibeberkan Tim Advokasi #IndonesiaVSMafiaBola saat jumpa pers di salah satu restoran di bilangan Senopati, Jakarta Selatan, Selasa 16 Juni. “Klien kami mengakui pernah terlibat, ikut, dan turut serta dalam pengaturan skor. Sejak 2000 hingga 2010, dana yang dipakai dari APBD. Dari 2010 sampai 2015 dana dari investor,” kata Muhammad Isnur selaku salah satu anggota Tim Advokasi, “BS beritikad baik mau menjadi Justice Kolaborator. BS merupakan mantan pemain, pelatih, dan kini berprofesi sebagai wiraswasta,” tutup Isnur. BS melaporkan manajer klub, pemain, dan beberapa pengurus PSSI yang diduga melakukan pengaturan skor. BS yang mengaku turut terlibat juga bersedia dikenakan tindak pidana oleh kepolisian karena sebagai salah satu pelaku yang melakukan pengaturan skor. (HIL)

Sumber: MetroTVNews