Mendikbud: Bahasa Indonesia Bisa Jadi Poros Bahasa Autronesia

4d Singapore Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy mengatakan, Bahasa Indonesia dapat menjadi poros bahasa Austronesia. Hal ini berdasarkan jumlah bahasa yang ada di Indonesia, serta didukung oleh usia bahasa Indonesia yang masih muda. Menurut Muhadjir, Bahasa Indonesia peluang untuk berkembang masih sangat besar. Salah satu cara dengan menyerap bahasa-bahasa di sekitarnya untuk memperkaya kosa kata. Maka, tidak akan menutupi kemungkinan Bahasa Indonesia akan menjadi poros bahasa Austronesia. “Saya kira ini juga berkaitan dengan Indonesia sebagai poros maritim. Jadi kalo gagasan Presiden, Indonesia sebagai poros maritim maka seiring berkembanganya waktu Indonesia juga bisa sebagai poros bahasa Austronesia itu,” kata Muhadjir pada Pembukaan Seminar Interasional Migrasi Bahasa Austronesia, di Hotel Marcure, Ancol, Jakarta, Rabu,(14/9) malam. Dengan menjadi poros bahasa Austronesia, kata Muhadjir, tidak menutup kemungkinan Bahasa Indonesia akan menjadi bahasa internasional, bahasa pengetahuan, bahasa diplomasi. Menurut Muhadjir, jika Bahasa Indonesia menjadi bahasa diplomasi tentu memperkuat Indonesia dalam membuat aturan. Dengan demikan sangat banyak manfaat Indonesia sebagai poros bahasa Autronesia. Terkait hal tersebut, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Dadang Kusnandar mengatakan, niat Mendikbud menjadikan Bahasa Indonesia sebagai poros bahasa Austronesia patut diacungi jempol karena mengingatkan pada amanat Undang- Undang Nomor 24 tahun 2009 yang membahas tentang peningkatan fungsi Bahasa Indonesia yangmerujuk pada menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa interanasional. Dijelaskan dia, ada tiga hal pokok dalam Undang- Undang tersebut meliputi; Pertama, mengembangkan dengan melakukan perawatan dan pembinaan bahasa dan juga mengangkat martabat bahasa Indonesia. Kedua, bagaimana cara melestarian bahasa daerah dan ketiga, penguasan bahasa Asing. Dalam artian UU ini mengakomodir semua kebutuhan masyarakat Indonesia ke depannya. Sementara itu, terkait diadakan seminar selama tiga hari ini, menurut Dadang sebagai wadah tukar pikiran para ahli bahasa. Pasalnya, ada yang berpendapat bahasa Austronesia pernah mengalami migrasi, dan sebaliknya. “ Diadakan seminar internasional ini untuk melacak proses migrasi bahasa Austronesia di Indonesia dengan mengunakan fitur- fitur linguistik bahasa daerah di kepulauan Indonesia serta keragamanan bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang memiliki ciri asal bahasa Austronesia. Seminar ini juga bertujuan untuk mewadahi pendapat para ahli berbandingan bahasa mengenai isu- isu bahasa Austronesia,” tukas Dadang. Dikatakan dia, pada seminar ini para ahli akademisi bahasa juga mengkaji rumpun bahasa Autronesia secara mendalam untuk membuka wawasan mengenai kekayaan bahasa yang ada di Indonesia. Pasalnya berdasarkan data badan bahasa Kemdikbud 2014, sekitar 617 bahasa yang ada sebagai wujud dan penopang rumpun bahasa Austronesia. Ditambahakan dia, adanya seminar juga secara tidak langsung mendukung dan memperkuat program pemerintah yaitu nawacita kesembilan untuk memperteguh kebinekaaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat kebinekaan dan menciptakan ruang–ruang dialog antarwarga. Sementara itu, Ahli bahasa dari Universitas Frankfurt- Jerman, Prof Bernd Nother mengatakan, Indonesai tidak dapat dikatakan sebagai poros bahasa Austronesia. Pasalnya, banyak negara masuk dalam rumpun Austronesia dan Indonesia hanya salah satu negara yang memakai bahasa Autronesia. Meskipun Indonesia lebih banyak dan hampir 600-an bahasa Austronesia. “ Itu yang terjadi Indonesia paling banyak penutur bahasa Austronesia. Filipina hanya 70 bahasa sedangkan Indonesia paling banyak hampir 600-an bahasa dan Indonesia juga menjadikan bahasa Austronesia menjadi bahasa nasional. Ini hal yang terpenting bahasa Indonesia sebagai bahasa pengikat kesatuan Indonesia sesuai dengen sumpah pemuda,” jelas Prof Bernd. Menurut Prof Bernd, bahasa Autronesia berasal dari Taiwan yang bermigrasi ke Filipina sebagaian ke arah barat yaitu Indonesia, dan sebagain ke arah timur sampai lautan teluk. Maka adanya seminar sebagai wadah para ahli mengkaji asal usul bahasa Austronesia. Pasalnya, ada yang berpendapat bahasa Austronesia digunakan oleh suku Melanesia dan ada beda pendapat. Maka, akan ada pembahasan mendalam. Lebih lanjut, ia juga menjelaskan, tentang perbedaan bahasa Austronesia dan bukan. Menurutnya, di dunia ada 125 keluarga bahasa, dan 6.000 bahasa secara keseluruhan. Sedangkan bahasa Austronesia terdiri dari 1200 bahasa. Hal ini menandakan penutur bahasa Austronesia ada seperempat dari total keseluruhan. Dalam artian semua keluarga bahasa tersebut sangat banyak. Maria Fatima Bona/GOR Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu