Kisah Pastor Katolik ‘Lolos’ dari Penjara ISIS

SURIAH- Seorang pastor di Suriah, Jack Murad, tak pernah membayangkan akan bertahan hidup setelah ditangkap oleh milisi kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS) di kotanya, al-Qaryatain, Mei lalu. Bersama seorang asisten yang bekerja di biara di kota itu, Murad dibawa dengan kendaraan menuju Raqqa, yang dikenal sebagai kubu ISIS. Di sini ia ditempatkan di satu sel, bersama tawanan lain. Para tawanan di sini diberi makan secara teratur, mendapatkan perawatan medis, dan tak pernah sekali pun disiksa, kata Murad. Yang terberat selama ditawan adalah “gelombang pelecehan verbal” dari para milisi ISIS yang menyebut tawanan sebagai orang-orang kafir. Yang juga diingat oleh Murad adalah, anggota ISIS mengajak diskusi tentang teologi Kristen seperti konsep Trinitas, Yesus, dan penyaliban. “Saya tak menjawab diskusi ini karena menurut saya tak akan ada gunanya,” ungkap Murad kepada . Para anggota ISIS yang ditugasi menjaga penjaga sering mengeluarkan ancaman dengan mengatakan para tawanan akan dibunuh jika tidak berpindah ke agama Islam. “Mereka menjelaskan secara rinci bagaimana mereka akan membunuh kami jika tidak memeluk agama Islam. Mereka sangat pintar meneror kami,” katanya. Murad mengatakan dirinya tak bersedia pindah agama dan siap untuk dipenggal. Setelah 84 hari ditawan, ia ditemui “sejumlah pejabat” ISIS yang menawarkan perjanjian dengannya, yang intinya para pemeluk Kristen di Suriah boleh menetap di wilayah yang dikuasai ISIS dengan syarat membayar pajak. Dengan kesepakatan ini semua tawanan Kristen dilepas dan dibolehkan kembali ke al-Qaryatain. Namun Murad memutuskan untuk meninggalkan kota ini karena alasan keamanan. “Ini sudah menjadi daerah pertempuran … sering terjadi pengeboman,” katanya. Namun tak sedikit pula yang memutuskan untuk bertahan karena tak tahu harus mengungsi ke mana. Ada juga yang pasrah dan siap mati di al-Qaryatain,” katanya.()

Sumber: PoskotaNews