Interpol Mantapkan Kerja Sama Internasional Ungkap Kejahatan

4d Singapore Nusa Dua – Interpol terus memantapkan peran dan fungsinya bagi 190 negara anggotanya dalam Sidang Umum Interpol ke 85 di Nusa Dua, Bali Ada empat fungsi utama organisasi yang bermarkas di Lyon, Prancis itu. Yang pertama adalah menyediakan layanan komunikasi polisi secara global yang tersedia 24 jam tanpa putus. Komunikasi global memungkinkan polisi dari negara-negara anggota untuk bertukar informasi secara cepat dan mudah. Hal ini membuat otoritas kepolisian memiliki cara yang efektif dan efisien untuk berbagi dan mengakses informasi secara cepat dan akurat. “Juga menyediakan layanan data operasional dan database kepolisian. Menyediakan dan memperbarui basis data yang dapat diakses dan digunakan otoritas kepolisian dan instansi penegak hukum terkait,” kata Kabag Penum Polri Kombes Martinus Sitompul di Nusa Dua, Selasa (8/11). Basis data tersebut berisi berbagai informasi termasuk data buronan Internasional (DPO), data pelaku kejahatan internasional, dan data dokumen perjalanan yang dicuri atau hilang. Juga data kendaraan yang dicuri, data benda seni/benda berharga yang dicuri, dan data kapal yang dicuri, data terorisme, data sidik jari, data DNA, dan lain lain. Sistem Interpol juga menyediakan perangkat pelayanan data operasional dan basis data kepolisian yang mencakup e-ASF (electronic automatic search facility), I- Batch, MIND/FIND (Mobile/Fixed Interpol Network Database), dan I-Checkit. ” Juga menyediakan layanan dukungan operasional kepolisian. Interpol melaksanakan kerjasama dalam operasi kepolisian diantaranya operasi penanggulangan terorisme bersandi Operasi Infra Red dan Operasi Hawk,” lanjut Martinus. Juga operasi terorisme dan kejahatan transnasional bersandi Operasi Sunbird dan Operasi Red Lotus. Lalu operasi penanggulangan perdagangan manusia bersandi Operasi STOP, Operasi BIA, dan Project Chilhood. Untuk operasi penanggulangan obat-obatan illegal ada Operasi Pangea, Operasi Opson, dan Operasi Storm. Operasi penanggulangan narkoba diberi sandi Operasi Lion Fish. Interpol juga melaksanakan program-program seperti Integrated Border Management . Program ini bertujuan untuk melakukan deteksi pelaku kejahatan di wilayah perbatasan. Dalam program ini digunakan fasilitas FIND/MIND oleh petugas imigrasi dalam pengecekan dokumen pelayanan dan petugas bea cukai untuk pengecekan barang. Disamping itu juga dilaksanakan program I-Checkit yaitu program kemitraan dengan sektor swasta melalui pengecekan dokumen perjalanan Yang lain yaitu CBRNE program yaitu program pencegahan bioterorisme. Interpol juga membangun pusat-pusat pelayanan seperti pusat komando dan koordinasi untuk mengakomodasi permintaan bantuan darurat dari negara anggota, Interpol Response Team (IRT) dan IMEST (Interpol Major Event Support Team) ” Yang terakhir Interpol juga membantu pengembangan kapasitas dan pelatihan. Interpol membantu negara-negara anggota unutuk membangun dan meningkatkan kemampuan dalam tindakan Kepolisian dan penegakan hukum,” sambung Martinus. Program pelatihan yang dilaksanakan bertujuan untuk memperkuat dan mendidik lembaga penegak hukum atas isu-isu tertentu. Program ini mencakup pelatihan dan penanganan kejahatan transnasional, pelatihan dan pengembangan teknologi investigasi, dan pelatihan dan pengembangan personil NCB. Sedang prioritas penanganan kejahatan oleh Interpol adalah obat terlarang dan kejahatan terorganisir, Keamanan masyarakat dan terorisme, Kejahatan teknologi tinggi, cyber crime dan keuangan, Perdagangan manusia, Buronan, Korupsi, serta Lingkungan hidup. Farouk Arnaz/FMB BeritaSatu.com

Sumber: BeritaSatu