MAREK HAMSIK, KISAH SANG ‘PENAKLUK’ DIEGO MARADONA

Diego Maradona tidak lagi tak tersentuh di Napoli, karena Marek Hamsik mulai mengusik kebesarannya untuk berbagi singgasana.

Satu nama asing mendapat sorotan tatkala Brescia bertemu AC Milan di babak 16 besar Coppa Italia 2006/07. Namanya Marek Hamsik, gelandang serang yang kala itu masih berusia 19 tahun asal Slowakia.

Perawakannya mudah diingat. Wajahnya sangat kaukasian, posturnya tinggi besar nan atletis, dengan rambut mohawk yang mencolok. Permainannya? Brilian! Pergerakannya begitu luwes bak pemain Brasil dengan tembakan kencang khas pesepakbola Eropa Timur.

Brescia pada akhirnya memang tersingkir karena kalah telak secara agregat lewat skor 6-3. Namun Hamsik sukses menjelma jadi salah satu pemain muda paling menjanjikan, dengan Milan, Inter Milan, hingga Manchester United memonitorinya.

Namun Napoli jadi klub yang beruntung mendapatkannya lewat banderol €5,5 juta. Saat itu I Partonopei baru promosi ke Serie A Italia dengan mengusung ambisi besar mengembalikan kejayaan, di bawah dinasti Aurelio De Laurentiis.

Status reguler di starting XI langsung didapatkannya pada musim perdana, di mana Hamsik begitu produktif lewat sumbangsih sembilan gol dan empat assist dari 37 penampilannya di Serie A. Napoli dibawanya finish di urutan delapan klasemen akhir. Pencapaian yang bagus untuk tim promosi.

Waktu berjalan dan Hamsik berkembang dengan begitu dahsyat, dari seorang youngster menjanjikan hingga jadi sosok yang dipuja oleh seluruh Neapolitan. Predikat “legenda hidup” bahkan mulai berani disematkan, seiring kontribusi besarnya mempersembahkan dua Coppa Italia dan satu Piala Super Italia dalam rentang 2012 hingga 2015.

Ban kapten yang melingkar di lengan kirinya sejak 2014 makin menegaskan bagaimana Hamsik membangun kebesarannya di Napoli. “Hamsik adalah pesepakbola hebat, pemain yang spesial. Dia merupakan salah satu yang terbaik di dunia pada posisinya dan seharusnya media menulis lebih banyak soal dirinya,” ujar rekan seklubnya, Allan, seperti dilansir Corrie dello Sport.

Lantas dengan segala atributnya, mengapa Hamsik tak hijrah ke klub yang lebih besar? Bergabung Juventus sebagai yang terbaik di Italia atau Barcelona dan Manchester United yang jadi klub favoritnya semasa kecil misalnya?

Faktanya Hamsik rutin mendapat tawaran menggiurkan untuk hengkang ke klub besar dengan iming-iming gaji lebih tinggii. Klub elite mana yang meminatinya? Anda bisa sebutkan, entah itu ketiga klub yang dibahas di atas plus Milan, Arsenal, Chelsea, sampai Bayern Munich.

Dua klub terbaik Italia, Milan dan Juve jadi yang paling dekat untuk mendapatkan Hamsik pada 2013 dan 2016 lalu. Namun pemain yang hobi merajah tubuh itu menolak segala tawaran yang datang, lantaran cinta sejatinya yang seiring waktu tumbuh di Napoli.

Pada 2014 Hamsik bahkan melakukan langkah berani yang mungkin takkan pernah dilakukan pesepakbola lain, dengan memecat agen-super, Mino Raiola, karena terus menekannya untuk meninggalkan San Paolo.

“Napoli adalah kulit kedua saya. Saya cinta klub ini dan para tifosi mencintai saya. Saya takkan pernah sanggup meninggalkan klub ini dan berharap mengakhiri karier dengan jersey biru kebanggaan Napoli,” ungkap Hamsik soal loyalitasnya, seperti dikutip Radio Kiss Kiss Napoli.

Dedikasi Hamsik pun diapresiasi oleh Napoli lewat tambahan kontrak hingga musim panas 2020 lewat gaji €4 juta per musim, yang ditandatanganinya pada Agustus 2016 lalu.

16 Desember 2017 kemudian jadi hari bersejarah lain buat Hamsik untuk Napoli. Satu gol-nya ke jala Torino membuatnya bersanding dengan legenda terbesar klub, Diego Armando Maradona, sebagai top skor sepanjang masa I Vesuviani lewat koleksi 115 gol.

Pemain berujuluk Marekiaro ini lantas jadi top skor sepanjang masa tunggal Napoli, lantaran menambah koleksinya menjadi 117 gol pada sepasang partai berikutnya dalam duel hadapi Sampdoria dan Crotone.

“Saya mengucakan selamat untuk Hamsik karena telah memecahkan rekor saya. Saya berharap dia terus menggelontorkan gol untuk kejayaan publik Napoli,” sanjung Maradona, seperti dikutip El Pais.

Hamsik pun bisa makin menegaskan kisah legendarisnya di Napoli, karena kini hanya berjarak 31 laga dari Giusepe Bruscolotti sebagai penampil terbanyak dalam sejarah klub dengan koleksi 511 partai.

Butuh sepuluh tahun memang, tapi secara perlahan Hamsik mulai mengusik singgasana tak tersentuh Maradona di hati para Neapolitan. Namun status idaman itu takkan pernah tercapai jika dirinya gagal mempersembahkan gelar Serie A untuk Napoli.

Sekalipun Hamsik sudah jadi top skor sepanjang masa dan segera jadi penampil terbanyak, bagaimanapun para Neapolitan akan lebih menghargai Maradona karena sanggup menghadirkan trofi major untuk Napoli. Era El Diego adalah yang terbaik sepanjang sejarah klub, berkat persembahan sepasang Scudetto dan satu Piala UEFA pada periode 1987 hingga 1990 silam.

Hamsik pun sadar akan hal itu dan ambisnya tak pernah padam untuk bisa mensejajarkan diri dengan Maradona. “Saya sadar saya takkan pernah bisa sejajar dengan Maradona di Napoli andai tak bisa memenangi Scudetto. Saya begitu berhasrat memenangkannya dengan seragam ini, karena saya lebih memilih satu gelar Scudetto bersama Napoli ketimbang sepuluh gelar major di tim lain,” tegas Hamsik, seperti dikutip La Gazzetta dello Sport.

Di tengah dominasi mutlak Juve di Italia dalam enam musim terakhir plus tak kunjung mapannya posisi Napoli di Eropa, situasinya tampak sulit bagi Hamsik. Namun melihat bagaimana I Ciucciarelli bermain di bawah asuhan Maurizio Sarri musim ini, jadi Campione d’Inverno, dan masih bertahan di Eropa lewat Liga Europa, mukjizat bukan tak mungkin hadir.

“Segalanya akan berjalan sulit, tapi ada keyakinan yang begitu tinggi dalam tim ini bahwa kami bakal mencapai sesuatu yang besar musim ini. Saya juga tak pernah merasa sehebat ini bersama Napoli, baik secara individu maupun tim. Sekarang adalah tinggal bagiamana kami bisa fokus sampai ke target itu!” seru Hamsik penuh keyakinan, seperti dikutip Sky Sport Italia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *