Tren Pemecatan Manajer Tim Juara Bertahan Patut Bikin Conte Cemas

Jakarta Chelsea kalah di partai pembuka Premier League musim ini. Antonio Conte patut cemas jika menilik tren pemecatan terhadap peracik taktik tim juara bertahan.

The Blues memulai usaha dalam mempertahankan titel Premier League dengan kekalahan di kandang sendiri. Chelsea kalah 23 saat menjamu Burnley di Stamford Bridge, Sabtu (12/8/2017).

Ini memang baru partai pembuka musim, tapi Conte harus benarbenar waspada. Sejarah memperlihatkan betapa pemecatan bisa datang dengan tibatiba, bahkan untuk sosok manajer yang membawa timnya menjuarai liga di musim sebelumnya.

Semenjak Sir Alex Ferguson membawa Manchester United menjuarai Premier League 2008/2009, untuk tampil sebagai kampiun tiga musim berturutturut, belum pernah lagi ada tim yang bisa mempertahankan gelar juara.

“Dan lebih jauh lagi, semenjak 2006/2007 pria asal Skotlandia itu menjadi satu dari dua manajer, bersama Manuel Pellegrini di Manchester City, yang meraih titel dan masih bertahan di posisinya pada bulan Mei musim berikutnya,” tulis BBC.

Faktanya, tren dalam beberapa tahun terakhir memang memperlihatkan betapa beratnya menempati posisi manajer setelah membawa timnya menjadi juara Premier League musim sebelumnya.

“Carlo Ancelotti (Chelsea, 2009/2010), Roberto Mancini (Manchester City, 2011/2012), Jose Mourinho (Chelsea, 2014/2015), dan Claudio Ranieri (Leicester, 2015/2016) semuanya sudah raib 12 bulan setelah memenangi liga teratas Inggris. Itu merupakan empat dari enam manajer peraih titel sebelum Conte,” kata BBC.
Conte bisa tambah risau menyusul hasil atas Burnley itu karena Chelsea kini menjadi juara bertahan Premier League kedua yang kalah di partai pembuka pada musim setelah jadi kampiun (setelah Leicester pada musim lalu).

Ditambah kabar mulai kurang akurnya Conte dengan manajemen klub Chelsea, terkait aktivitas transfer dan langkah melepas Nemanja Matic ke Manchester United, allenatore Italia berusia 48 tahun tersebut benarbenar patut mencemaskan masa depan.